Langsung ke konten utama

Hotman Paris Hutapea menilai tindakan BNN merehab Raffi Ahmad untuk memperkuat tuduhan

Rahab Raffi Ahmad Bagian Teknik Penyidik Perkuat Tuduhan
Zona Gosip Indonesia - Hotman Paris Hutapea menilai tindakan BNN merehab Raffi Ahmad untuk memperkuat tuduhan: Sebagai pengacara yang sudah memiliki segudang pengalaman, Hotman Paris Hutapea menilai tindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) merehab Raffi Ahmad adalah teknik dari penyidik untuk memperkuat tuduhan. Dengan demikian, sangkaan di persidangan pokok nantinya akan lebih kuat.

"Tindakan BNN merehab Raffi untuk memperkuat dokumen di persidangan nanti. Dengan gitu kan ada laporan dari medis, agar nanti di persidangan hakim mana pun akan percaya. Ini teknik dari penyidik untuk memperkuat tuduhan," jelas Hotman Paris Hutapea di Kawasan SCBD Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3) malam.

Hotman sendiri mengaku baru pertama ada gugatan praperadilan tentang rehabilitasi. Baru sekarang ini ada protes tersangka karena direhabilitasi. "Ini pertama kali kasus praperadilan tentang rehab. Saya belum pernah lihat sebelumnya. Orang nggak pantas direhab, ya jangan direhab," akunya.

Lebih lanjut, Hotman mengusulkan agar para penyidik Badan Narkotika Nasional (BNN) juga memeriksa para petani khat di Cisarua, Bogor. Zat di tanaman khat itu yang dijadikan alasan BNN untuk menangkap Raffi.

"Penyidik BNN dengan gagahnya memberantas tanaman di Cisarua. Kalau perlu kenapa Raffi aja yang dites, kenapa yang nanam nggak dites sekalian?" tukas Hotma. (kpl/aha/rea/dar)

Sumber: Kapanlagi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998

Zona Gosip Indonesia - Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998 : Sebagai salah satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998, Sandyawan Sumardi melihat pemerkosaan merupakan cara efektif untuk menimbulkan kepanikan sekaligus ketakutan di masyarakat.  Hingga saat ini, kasus pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 kian pudar dari ingatan publik. Bahkan, tidak sedikit kalangan meragukan kejadian itu. “Saya punya data lengkap sekitar 52 orang (korban pemerkosaan) pada Mei 1998 di beberapa tempat. Tapi ada etika, identitas korban tidak bisa disebarkan. Itu buat keselamatan dan nama baik korban,” kata Sandyawan saat ditemui merdeka.com Senin lalu di kantornya di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dia mengakui perlu perjuangan berat untuk meminta pengakuan para korban. Namun setelah laporan tim pencari fakta selesai disusun, pemerintah malah menganulir temuan itu. Mereka bahkan menyebarkan foto-foto korban pemerkosaan. “Itulah cara-cara pemerintah mendiskreditkan t...