Langsung ke konten utama

Istri-istri Eyang Subur menolak diceraikan


Zona Gosip Indonesia - Istri-istri Eyang Subur menolak diceraikan: Atas alasan batin dan psikologis, para istri dan anak menolak dipisahkan dengan dengan Eyang Subur. Bahkan, mereka telah menunjuk seorang pengacara untuk menangani masalah tersebut.

Hal itu diungkap kuasa hukum Eyang Subur, Ramdan Alamsyah saat ditemui di Bilangan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (25/4).

"Ketika kita ingin melepaskan tapi istri-istri ini tidak mau menerima secara batin dan psikologis. Mereka berontak tidak mau diceraikan termasuk anak-anaknya," ungkapnya.

Diakui mereka telah membicarakan hal ini dengan keluarga besar saat sedang berkumpul. Namun para istri dan anak-anaknya mengutarakan keberatan atas perceraian tersebut.

"Ya malam itu kita adakan pertemuan. Antara mereka (para istri) dan anak-anaknya gak mau dipisahkan dengan suami atau bapak saya. Berbicaranya seperti itu," paparnya.

Diteruskannya, Eyang Subur tetap akan mematuhi pernyataan MUI yang mengharuskan menceraikan istri kelima dan seterusnya. Meski bingung atas sikap para istri dan anak-anaknya, kliennya akan tetap mencari jalan keluar yang terbaik.

"Cukup membingungkan. Karena perpisahan ini bukan diinginkan oleh kedua belah pihak tapi keinginan pihak luar. Nantilah kita cari solusinya," kata Ramdan. (kpl/aha/dis/sjw)

Sumber: Kapanlagi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998

Zona Gosip Indonesia - Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998 : Sebagai salah satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998, Sandyawan Sumardi melihat pemerkosaan merupakan cara efektif untuk menimbulkan kepanikan sekaligus ketakutan di masyarakat.  Hingga saat ini, kasus pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 kian pudar dari ingatan publik. Bahkan, tidak sedikit kalangan meragukan kejadian itu. “Saya punya data lengkap sekitar 52 orang (korban pemerkosaan) pada Mei 1998 di beberapa tempat. Tapi ada etika, identitas korban tidak bisa disebarkan. Itu buat keselamatan dan nama baik korban,” kata Sandyawan saat ditemui merdeka.com Senin lalu di kantornya di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dia mengakui perlu perjuangan berat untuk meminta pengakuan para korban. Namun setelah laporan tim pencari fakta selesai disusun, pemerintah malah menganulir temuan itu. Mereka bahkan menyebarkan foto-foto korban pemerkosaan. “Itulah cara-cara pemerintah mendiskreditkan t...