Langsung ke konten utama

Eza senang kebohongan Rasti terbongkar

Zona Gosip Indonesia - Eza senang kebohongan Rasti terbongkar: Terdakwa Eza Gionino mengaku bersyukur karena merasa semakin banyak kebohongan Ardina Rasti yang terungkap di persidangan. "Alhamdulillah semakin banyak kebohongan terungkap, saya bersyukur, kemarin sempat emosi,tapi mama nasehati saya untuk sabar, dan mama doakan saya," kata Eza  kepada wartawan, Rabu (1/5) usai persidangan.


 
Menurut Eza ini adalah jawaban dari doa-doa ibunya. "Saya semakin sabar dan tabah, karena itu saya banyak berdoa agar kebenaran terungkap," kata Eza.

Sebelumnya, dalam persidangan yang menghadirkan saksi Atika dari Umbrella Manajemen, terungkap bahwa Rasti pergi ke Makassar usai dianiaya Eza. "Rasti  bilang dia dianiaya 10 Juli, tapi ternyata besoknya dia  malah ke Makassar, padahal dia ngaku gak bisa beraktitas setelah dianiaya saya. Dari sini aja udah gak beres," kata Eza.

Hendarsam Marantoko SH, pengacara Eza, menambahkan pihaknya telah memiliki saksi lain untuk mengungkap kebohongan pihak Rasti. "Saksi yang dihadirkan adalah saksi yang tahu kejadian dan mampu melampirkan bukti, tidak sekedar bilang katanya. Banyak keterangan palsu dari pihak Rasti," kata Hendarsam SH.



Ditambahkan Hendarsam SH, Rasti hanya melebih-lebihkan permasalahannya dengan Eza, padahal bisa diselesaikan dengan baik. "Kalau cekcok pacaran itu hal biasa, harusnya di selesaikan baik-baik, jangan malah merekasaya perkara dan membawa ke pengadilan, harusnya Rasti berhati-hati," kata Hendarsam SH.

Sidang lanjutan akan digelar Rabu pekan depan, 8 Mei 2013, dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi yang diajukan pihak jaksa penuntut umum dan pihak Eza Gionino.

sumber: C&R Digital 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998

Zona Gosip Indonesia - Sejarah kelam pemerkosaan massal 1998 : Sebagai salah satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998, Sandyawan Sumardi melihat pemerkosaan merupakan cara efektif untuk menimbulkan kepanikan sekaligus ketakutan di masyarakat.  Hingga saat ini, kasus pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 kian pudar dari ingatan publik. Bahkan, tidak sedikit kalangan meragukan kejadian itu. “Saya punya data lengkap sekitar 52 orang (korban pemerkosaan) pada Mei 1998 di beberapa tempat. Tapi ada etika, identitas korban tidak bisa disebarkan. Itu buat keselamatan dan nama baik korban,” kata Sandyawan saat ditemui merdeka.com Senin lalu di kantornya di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dia mengakui perlu perjuangan berat untuk meminta pengakuan para korban. Namun setelah laporan tim pencari fakta selesai disusun, pemerintah malah menganulir temuan itu. Mereka bahkan menyebarkan foto-foto korban pemerkosaan. “Itulah cara-cara pemerintah mendiskreditkan t...